Lompat ke konten utama

Executive Performance Report

Semester I Tahun 2026

Indeks Cakupan Bimbingan Perkawinan (ICBP)

DIMENSI 5|Coverage Relationship

Analisis Hubungan Tingkat Cakupan dengan Jumlah Peristiwa Nikah

Pendekatan statistik untuk memahami pola hubungan antarindikator · Januari–Juni 2026

Metodologi

Apakah jumlah peristiwa nikah menentukan tingkat cakupan Bimbingan Perkawinan di setiap provinsi — dan bila tidak, faktor apa yang sesungguhnya menggerakkannya?

1Analisis Hubungan Statistik

Korelasi (r)

0,19Pearson

Arah positif, namun nyaris datar. Dihitung pada 33 provinsi layak peringkat.

Determinasi (R²)

3,73% variasi terjelaskan

Volume pernikahan hanya menjelaskan sebagian kecil variasi cakupan antarprovinsi; sisanya 96,27 % ditentukan faktor lain.

Kekuatan Hubungan

Sangat Lemah

r = 0,19

3,73 % · arah positif

Semakin lemah hubungannya, semakin besar ruang yang dapat digerakkan kebijakan.

Slope

1,24p.p. per 10.000 nikah

Kemiringan garis tren: tambahan 10.000 peristiwa nikah hanya bergeser sekian poin persentase — praktis rata.

Intercept

44,65% titik potong

Cakupan dugaan pada volume nol. Karena garisnya rata, angka ini nyaris sama dengan capaian nasional 54,46 %.

Cara membaca angka ini

Korelasi mengukur seberapa erat dua indikator bergerak bersama, pada rentang −1 sampai +1. Nilai r = 0,19 berarti hubungan sangat lemah: mengetahui jumlah peristiwa nikah sebuah provinsi nyaris tidak membantu menebak cakupannya. R² = 3,73 % menegaskan hal yang sama — hanya sebagian kecil variasi yang terjelaskan oleh volume.

2Sebaran Provinsi: Volume terhadap Cakupan

Peringkat provinsi

Setiap lingkaran mewakili satu provinsi

Sumbu mendatar: jumlah peristiwa nikah · Sumbu tegak: Coverage Rate · Garis putus navy: rata-rata nasional 54,46 %

33 provinsi layak peringkat

Ukuran lingkaran = jumlah KUA · Warna = kelas kinerja · Garis hijau = tren regresi

Legenda kelas kinerja

  • Excellent85–100 %
  • High70–84 %
  • Moderate55–69 %
  • Low40–54 %
  • Very Low< 40 %

Yang terlihat pada sebaran

Titik-titik menyebar hampir merata pada seluruh rentang sumbu tegak, tanpa memperhatikan posisinya pada sumbu mendatar. Provinsi bervolume kecil dapat berada di puncak maupun di dasar; demikian pula provinsi bervolume besar. Garis tren hijau nyaris mendatar — bila volume benar-benar menentukan cakupan, garis itu akan menanjak tajam dan titik-titik akan merapat padanya.

Sebaran vertikal yang lebar pada volume yang sama inilah bukti visualnya: dua provinsi dengan beban pernikahan setara dapat berbeda puluhan poin persentase. Perbedaan itu lahir dari cara layanan diselenggarakan, bukan dari besarnya permintaan.

Simpangan terhadap garis tren

Selisih antara capaian nyata dan capaian dugaan garis regresi.

Jauh di atas tren

Jauh di bawah tren

Wilayah yang tidak disertakan dalam perhitungan

Papua Barat (989 peristiwa nikah) dan Papua Barat Daya (2 peristiwa nikah) berada di bawah ambang 1.000 peristiwa nikah. Persentase pada volume sekecil itu tidak stabil secara statistik, sehingga wilayah tersebut ditampilkan angkanya tetapi tidak diperingkat dan tidak dimasukkan ke dalam perhitungan korelasi. Tiga provinsi hasil pemekaran Papua tidak muncul sama sekali pada berkas sumber dan berstatus “Data belum tersedia”.

3Ringkasan dan Interpretasi Statistik

Arah Hubungan

Positif

Kemiringan bertanda positif, tetapi sangat landai: 1,24 p.p. untuk setiap tambahan 10.000 peristiwa nikah.

Kekuatan Hubungan

Sangat Lemah

r = 0,19 dan R² = 3,73 %. Volume pernikahan bukan penjelas capaian cakupan.

Penyimpangan Utama

6 provinsi

Beberapa provinsi menyimpang lebih dari tiga puluh poin persentase dari garis tren, ke atas maupun ke bawah — pada volume yang serupa.

Pola Nasional

Beragam

Capaian provinsi terbentang dari 8,60 % sampai 99,18 % — rentang yang jauh lebih lebar daripada yang dapat dijelaskan oleh perbedaan volume.

Interpretasi statistik

Hubungan antara jumlah peristiwa nikah dan Coverage Rate tidak bersifat linear dan praktis tidak ada. Sejumlah provinsi dengan jumlah pernikahan tinggi mampu mempertahankan cakupan yang baik, sementara wilayah lain dengan karakteristik serupa masih menghadapi tantangan dalam menjangkau calon pengantin. Temuan ini menunjukkan bahwa kapasitas penyelenggaraan dan efektivitas implementasi program turut memengaruhi capaian Coverage Rate jauh lebih besar daripada besarnya beban layanan.

Hubungan antarindikator tidak sepenuhnya ditentukan oleh besarnya jumlah peristiwa nikah — buktinya, 33 provinsi tersebar pada hampir seluruh rentang cakupan.

Beberapa provinsi menunjukkan kinerja jauh di atas tren nasional; capaian mereka layak ditelusuri sebagai model praktik baik yang dapat direplikasi.

Terdapat wilayah dengan potensi peningkatan cakupan yang besar meskipun jumlah peristiwa nikahnya relatif tinggi — di sanalah intervensi memberi hasil terbesar.

4Tiga Satuan Analisis

Hasil perhitungan pada tiga tingkat agregasi

Hubungan yang sama dihitung ulang pada satuan analisis berbeda. Ketiganya menunjuk ke arah yang sama.

Satuan analisisJumlah unitKorelasi (r)R² (variasi terjelaskan)SlopeInterceptKekuatan
Provinsi layak peringkatAcuan portalVolume ≥ 1.000 peristiwa nikah33 provinsi0,193,73 %1,24 p.p.per 10.000 nikah44,65 %Sangat Lemah
Seluruh provinsi yang melaporTermasuk wilayah di bawah ambang peringkat35 provinsi0,121,33 %0,80 p.p.per 10.000 nikah48,12 %Sangat Lemah
Kantor Urusan AgamaSatuan analisis paling halus yang tersedia5.918 KUA0,060,31 %2,04 p.p.per 100 nikah49,62 %Sangat Lemah

Mengapa r mengecil pada satuan yang lebih halus

Agregasi meredam keragaman. Pada tingkat provinsi, ribuan KUA sudah dirata-ratakan sehingga guncangan individual saling meniadakan. Turun ke tingkat KUA, seluruh keragaman itu kembali tampak dan korelasi menyusut menjadi 0,06 — hampir nol.

Mengapa 35 provinsi memberi angka lebih rendah

Dua provinsi di bawah ambang 1.000 peristiwa nikah menghasilkan persentase ekstrem dari volume yang sangat kecil. Memasukkannya menambah derau tanpa menambah informasi, sehingga r turun dari 0,19 menjadi 0,12.

Mengapa slope tidak dapat diperbandingkan langsung

Slope dinyatakan per satu peristiwa nikah, sedangkan skala volume provinsi dan KUA berbeda ribuan kali lipat. Karena itu tabel di atas menyetarakannya pada skala yang wajar bagi masing-masing satuan sebelum dibandingkan.

5Bukti: Volume Bukan Penentu Cakupan

Bila jumlah peristiwa nikah benar-benar menentukan cakupan, dua provinsi dengan beban hampir identik seharusnya mencatat capaian yang mirip pula. Pasangan berikut dipilih otomatis dari data: selisih volume di antara keduanya kurang dari 12 %, namun selisih cakupannya sangat besar.

Beban serupa, hasil berbeda 59,92 p.p.

selisih volume hanya 3,3 %
Sumatera Barat19.496 nikah · 174 KUAExcellent
99,18 %
Riau20.157 nikah · 164 KUAVery Low
39,26 %

Keduanya melayani sekitar 19.827 peristiwa nikah, tetapi memberi hasil yang terpaut 59,92 p.p. — beban layanan tidak menjelaskan selisih ini.

Beban serupa, hasil berbeda 58,57 p.p.

selisih volume hanya 3,3 %
Kalimantan Barat12.024 nikah · 164 KUAModerate
67,17 %
Jambi11.626 nikah · 132 KUAVery Low
8,60 %

Keduanya melayani sekitar 11.825 peristiwa nikah, tetapi memberi hasil yang terpaut 58,57 p.p. — beban layanan tidak menjelaskan selisih ini.

Beban serupa, hasil berbeda 51,91 p.p.

selisih volume hanya 10,2 %
Kalimantan Utara1.500 nikah · 35 KUAHigh
81,67 %
Papua1.670 nikah · 29 KUAVery Low
29,76 %

Keduanya melayani sekitar 1.585 peristiwa nikah, tetapi memberi hasil yang terpaut 51,91 p.p. — beban layanan tidak menjelaskan selisih ini.

Beban serupa, hasil berbeda 41,25 p.p.

selisih volume hanya 4,8 %
Kalimantan Selatan12.441 nikah · 151 KUALow
50,45 %
Nusa Tenggara Barat13.066 nikah · 116 KUAVery Low
9,19 %

Keduanya melayani sekitar 12.754 peristiwa nikah, tetapi memberi hasil yang terpaut 41,25 p.p. — beban layanan tidak menjelaskan selisih ini.

Hal yang sama berlaku pada dua provinsi bervolume terbesar

Selisih 22,22 p.p.
Jawa Barat151.110 nikah · 626 KUALow
52,84 %
Jawa Timur124.809 nikah · 665 KUAHigh
75,06 %

Keduanya menanggung beban pernikahan terbesar di Indonesia — masing-masing 151.110 dan 124.809 peristiwa nikah dengan 626 dan 665 KUA. Volume yang sama-sama besar tidak menghasilkan cakupan yang sama.

Mengapa hubungan yang lemah adalah kabar baik

Bila cakupan ditentukan oleh jumlah pernikahan, ruang gerak kebijakan akan sangat sempit: beban pernikahan tidak dapat diatur. Karena hubungannya sangat lemah, capaian cakupan hampir sepenuhnya ditentukan oleh hal-hal yang justru dapat dikendalikan — kapasitas KUA, ketersediaan fasilitator, intensitas pelaksanaan, dan kemitraan daerah.

6Coverage Driver Tree

Driver Utama

  • 1.Kapasitas KUA

    Sangat Tinggi

    Ketersediaan penghulu, ruang layanan, dan penjadwalan kelas.

  • 2.Fasilitator Bersertifikat

    Tinggi

    Jumlah, kompetensi, dan sebaran fasilitator terlatih.

  • 3.Intensitas Pelaksanaan BIMWIN

    Tinggi

    Frekuensi angkatan dan keluwesan jadwal bagi calon pengantin bekerja.

  • 4.Kemitraan Daerah

    Sedang

    Dukungan pemerintah daerah, ormas, masjid, dan perguruan tinggi.

  • 5.Jumlah Peristiwa Nikah

    Faktor Kontekstual

    Menentukan besarnya beban layanan, bukan tingkat keberhasilannya.

Indikator yang dipengaruhi

Coverage Rate
BIMWIN

54,46 %

402.208 calon pengantin (suami) dari 738.602 peristiwa nikah

Target nasional 90,0 % · jarak 35,54 p.p.

Dampak yang Diharapkan

  • Peningkatan Cakupan

    Proporsi calon pengantin terlayani naik mendekati target nasional.

  • Pemerataan Layanan

    Selisih capaian antarwilayah menyempit, akses tidak lagi bergantung lokasi.

  • Efektivitas Program

    Sumber daya diarahkan pada faktor yang terbukti menggerakkan cakupan.

  • Lebih Banyak Calon Pengantin Terlayani

    Tujuan akhir seluruh rantai: bekal pranikah bagi setiap pasangan.

Status kerangka driver

Peringkat pengaruh kelima faktor di atas berasal dari kerangka analisis laporan Semester I 2026 dan bersifat kualitatif — belum diuji secara statistik karena data kapasitas KUA, fasilitator, dan kemitraan belum tersedia dalam ekspor SIMKAH. Satu faktor sudah dapat diuji, yaitu jumlah peristiwa nikah, dan hasilnya konsisten: r = 0,19 menempatkannya sebagai faktor kontekstual, bukan pendorong. Pengujian empiris keempat faktor lain memerlukan penambahan variabel kapasitas pada periode berikutnya.

7Prioritas Kebijakan Nasional

  1. 1

    Perkuat Kapasitas KUA

    Penambahan penghulu dan penyuluh, penguatan sarana layanan, serta perbaikan tata kelola penjadwalan di KUA dengan beban tertinggi.

  2. 2

    Tingkatkan Kompetensi dan Sebaran Fasilitator

    Sertifikasi fasilitator baru dan redistribusi ke wilayah prioritas, agar ketersediaan tenaga tidak menjadi penghambat pelaksanaan.

  3. 3

    Perluas Intensitas Pelaksanaan BIMWIN

    Penambahan frekuensi angkatan dan penjadwalan di luar jam kerja, khususnya menjelang bulan dengan volume pernikahan tertinggi.

  4. 4

    Perkuat Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Mitra

    Perluasan titik layanan melalui ormas, masjid, perguruan tinggi, dan lembaga filantropi sebagai perpanjangan tangan penyelenggaraan.

  5. 5

    Monitoring Berbasis Dashboard SIMKAH

    Pemantauan capaian bulanan per wilayah dan per KUA, sehingga penurunan cakupan terdeteksi sebelum menjadi kesenjangan tahunan.

Arah Perumusan Kebijakan

Peningkatan Coverage Rate merupakan hasil dari kombinasi kapasitas kelembagaan, kualitas penyelenggaraan, dan efektivitas kemitraan. Karena jumlah peristiwa nikah terbukti hanya berperan sebagai faktor kontekstual, strategi nasional perlu difokuskan pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan melalui kebijakan dan pengelolaan program — bukan pada penyesuaian target menurut besarnya beban wilayah.

Sasaran wilayah ditetapkan dari simpangan terhadap tren, bukan dari volume pernikahannya — wilayah bervolume kecil pun dapat berada jauh di bawah garis.

Provinsi yang berkinerja jauh di atas tren menjadi sumber praktik baik yang paling relevan bagi wilayah dengan karakteristik volume serupa.

Pemantauan bulanan lewat SIMKAH menjaga agar penurunan cakupan pada bulan berbeban tinggi terdeteksi sejak dini, bukan setelah semester berakhir.

8Catatan Metodologis

Mengapa angka pada halaman ini berbeda dari laporan cetak

Laporan cetak Semester I 2026 mencantumkan korelasi sebesar 0,62 dengan R² 0,38 dan menyebut kekuatan hubungan “sedang”. Perhitungan ulang langsung dari data SIMKAH tingkat KUA tidak menghasilkan nilai itu pada satuan analisis mana pun: 0,19 pada provinsi layak peringkat, 0,12 pada seluruh provinsi, dan 0,06 pada tingkat KUA.

Portal menampilkan angka hasil perhitungan ulang beserta jejak metodenya, dan perbedaan ini dicatat secara terbuka sebagai salah satu temuan data — bukan disembunyikan atau diselaraskan diam-diam. Satuan analisis yang dipakai laporan cetak masih menunggu konfirmasi dari penyusunnya.

Rumus, ambang, dan seluruh catatan data

Cara perhitungan

  • Pembilang — calon pengantin (suami) yang sudah mengikuti BIMWIN; penyebut — peristiwa nikah tercatat di SIMKAH.
  • Korelasi Pearson dan regresi linear sederhana antara jumlah peristiwa nikah (X) dan Coverage Rate (Y), dihitung di dalam pipeline ETL, bukan di peramban — agar angka pada grafik dan pada teks selalu identik.
  • Ambang peringkat 1.000 peristiwa nikah. Wilayah di bawahnya tetap ditampilkan, tetapi tidak diperingkat dan tidak masuk perhitungan korelasi.
  • Agregat dihitung dengan menjumlahkan pembilang dan penyebut, tidak pernah dengan merata-ratakan persentase wilayah anak.

Batas tafsir

Korelasi tidak membuktikan sebab-akibat. Nilai r yang sangat lemah pada halaman ini menunjukkan bahwa volume pernikahan bukan penjelas capaian cakupan — bukan bahwa faktor lain sudah terbukti sebagai penyebabnya. Pembuktian itu memerlukan data kapasitas KUA dan fasilitator yang belum tersedia pada ekspor SIMKAH periode ini.
Hubungan antarindikator memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan angka capaian semata. Melalui analisis statistik, kebijakan dapat diarahkan pada faktor-faktor yang benar-benar memengaruhi keberhasilan perluasan layanan Bimbingan Perkawinan.
Laporan ICBP Semester I 2026 — ICBP-5 Coverage Relationship

Sumber Data

Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH)

Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah

Semester I Tahun 2026

ICBP Executive Performance Report

ICBP-5 · Coverage Relationship

Metodologi & catatan data