Indeks Cakupan Bimbingan Perkawinan (ICBP)
Simulasi Intervensi
Memproyeksikan dampak pengaktifan KUA yang belum menyelenggarakan layanan
Berdasarkan 1.643 KUA tanpa layanan · Januari–Juni 2026
Bila sejumlah KUA yang kini belum melayani satu pun calon pengantin diaktifkan, seberapa jauh Coverage Rate nasional akan bergerak — dan wilayah mana yang perlu didahulukan?
1Titik Tolak
Coverage Rate saat ini
54,46%
Target nasional 90,0 % — jarak 35,54 p.p.
KUA tanpa layanan
1.643KUA
Mencatat pernikahan tetapi nol peserta BIMWIN sepanjang Semester I Tahun 2026.
Pernikahan tak terlayani
142.132pasangan
Setara 42,25 % dari seluruh kesenjangan nasional.
Coverage Gap nasional
336.394pasangan
45,54 % calon pengantin belum memperoleh layanan.
2Kalkulator Dampak
Atur skenario intervensi
Diurutkan dari yang menangani pernikahan terbanyak — dampak per KUA tertinggi.
Asumsi capaian KUA yang diaktifkan
Seberapa jauh KUA tersebut menjangkau calon pengantinnya setelah aktif.
Setara capaian rata-rata KUA yang aktif
Batasi pada satu provinsi (opsional)
Proyeksi Coverage Rate
Target nasional 90,0 % · selisih 31,58 p.p.
Dari 54,46 % menjadi 58,42 %
+3,96 p.p.
KUA diaktifkan
200dari 1.643 blank spot
Tersebar di 20 provinsi
Calon pengantin terjangkau
29.253tambahan peserta
Dari 53.719 pernikahan di KUA tersebut
Sisa jarak ke target
31,58 p.p.target 90,0 %
Selisih yang masih harus ditutup lewat jalur lain.
Porsi kesenjangan tertutup
8,70 %dari total gap
Gap nasional 336.394 pasangan
Pembagian sasaran per provinsi
Daftar kerja yang dapat langsung dibagikan ke Kanwil.
| Provinsi | KUA disasar | Pernikahan tercakup | Porsi skenario |
|---|---|---|---|
| Sumatera Utara | 27 | 8.134 | |
| Banten | 30 | 8.066 | |
| Jawa Tengah | 24 | 6.470 | |
| Jawa Timur | 19 | 5.180 | |
| Jawa Barat | 16 | 4.702 | |
| Lampung | 19 | 4.397 | |
| Nusa Tenggara Barat | 15 | 3.408 | |
| Sumatera Selatan | 11 | 2.947 | |
| Kalimantan Timur | 9 | 2.132 | |
| Riau | 8 | 2.064 | |
| Jambi | 7 | 2.043 | |
| Kepulauan Riau | 1 | 1.016 | |
| D.I. Yogyakarta | 4 | 861 | |
| Kalimantan Barat | 3 | 651 | |
| Kalimantan Selatan | 2 | 383 | |
| Papua | 1 | 305 | |
| Kalimantan Tengah | 1 | 292 | |
| Bengkulu | 1 | 225 | |
| Maluku Utara | 1 | 223 | |
| Sulawesi Tengah | 1 | 220 |
Proyeksi ini bersifat aritmetis: jumlah pernikahan pada KUA yang disasar dikalikan asumsi capaian, lalu ditambahkan ke peserta nasional. Tidak memperhitungkan waktu pelaksanaan, ketersediaan fasilitator, maupun perubahan jumlah pernikahan. Lihat metodologi.
3Mengapa Kelompok Ini Didahulukan
Kesenjangan nasional sebesar 336.394 pasangan tidak tersebar merata. Sebanyak 42,25 % di antaranya terkonsentrasi pada 1.643 KUA yang sama sekali belum menyelenggarakan layanan.
Menaikkan cakupan pada kelompok ini secara aritmetis lebih murah daripada peningkatan merata di 5.918 KUA: sasarannya jelas, jumlahnya terbatas, dan setiap KUA yang aktif langsung menyumbang pada angka nasional.
Sebagian dari angka nol tersebut mungkin berupa persoalan pencatatan, bukan ketiadaan layanan. Karena itu langkah pertama pada wilayah berkualitas pelaporan rendah adalah verifikasi — lihat Kualitas Data.
Penyumbang terbesar: Sumatera Utara dengan 165 KUA tanpa layanan yang mencakup 16.742 pernikahan.
Proyeksi bersifat aritmetis — menunjukkan potensi maksimum, bukan janji hasil.
Setiap skenario menghasilkan daftar KUA yang dapat langsung diunduh dan dibagikan ke Kanwil sebagai lampiran nota dinas.
4Batas Penafsiran
Yang tidak diperhitungkan simulasi ini
Perhitungan hanya mengalikan jumlah pernikahan pada KUA sasaran dengan asumsi capaian. Empat hal berikut berada di luar jangkauannya: waktu pelaksanaan (kenaikan tidak terjadi seketika), ketersediaan fasilitator (setiap KUA baru membutuhkan penyelenggara), perubahan jumlah pernikahan pada periode berikutnya, serta mutu layanan — mengikuti BIMWIN tidak sama dengan memperoleh manfaatnya. Gunakan angka ini sebagai batas atas potensi, bukan sebagai proyeksi capaian.5Langkah Lanjutan
Dari Simulasi ke Penugasan
Kesenjangan yang terpusat adalah kesempatan, bukan sekadar masalah. Ia dapat dipetakan, dibagi, ditugaskan, dan ditagih penyelesaiannya.