Indeks Cakupan Bimbingan Perkawinan (ICBP)
Kualitas Data
Indeks Kualitas Pelaporan — keandalan data sebelum capaian dinilai
Dihitung dari 5.918 KUA · Januari–Juni 2026
Seberapa jauh angka cakupan sebuah wilayah dapat dipercaya — dan wilayah mana yang angkanya belum layak dibandingkan karena pelaporannya belum lengkap?
1Mengapa Indeks Ini Diperlukan
Cakupan hanya dapat dipercaya sejauh pelaporannya dapat dipercaya. Bila sebuah KUA tidak melaporkan satu pun peserta, angka nol yang muncul bisa berarti dua hal yang sangat berbeda: layanan memang tidak berjalan, atau layanan berjalan tetapi tidak tercatat.
Keduanya menghasilkan angka yang identik, tetapi menuntut tindakan yang berlawanan: yang pertama perlu penambahan fasilitator, yang kedua perlu pembenahan pencatatan. Menyamakan keduanya berarti salah menempatkan sumber daya — dan berpotensi menghukum wilayah atas persoalan administratif.
Karena itu indeks ini tidak menilai kinerja. Ia hanya menjawab satu pertanyaan: apakah angka wilayah ini sudah layak dibandingkan dengan wilayah lain?
Dihitung dari data yang sama, tanpa survei tambahan — cukup dari pola pelaporan 5.918 KUA.
Wilayah berskor rendah tidak diberi label “berkinerja buruk”, melainkan “perlu verifikasi data”.
Prasyarat sebelum ICBP dipakai sebagai alat penilaian kinerja daerah.
2Skor Nasional
Indeks Kualitas Pelaporan
83,11/ 100
Cukup
Sebagian kecil KUA belum melapor. Angka masih dapat digunakan dengan catatan.
Kelengkapan
71,96/ 100
Porsi KUA aktif yang benar-benar melaporkan peserta BIMWIN.
Kewajaran
87,83/ 100
Porsi KUA tanpa nilai mustahil — peserta tidak melebihi peristiwa nikah.
Konsistensi
98,56/ 100
Kesesuaian kolom Total dengan penjumlahan enam bulan.
KUA melapor layanan
4.216dari 5.859
KUA nol peserta
1.643dari 5.859
KUA nilai mustahil
713dari 5.859
KUA tanpa peristiwa nikah
59dari 5.918
3Cara Menghitung
Tiga komponen, masing-masing bernilai 0–100, digabung dengan bobot berikut. Kelengkapan diberi bobot terbesar karena KUA yang tidak melapor sama sekali berarti tidak ada data — persoalan yang lebih mendasar daripada nilai janggal.
- 50,00 %KelengkapanPorsi KUA aktif yang benar-benar melaporkan peserta BIMWIN.
- 20,00 %KewajaranPorsi KUA tanpa nilai mustahil — peserta tidak melebihi peristiwa nikah.
- 30,00 %KonsistensiKesesuaian kolom Total dengan penjumlahan enam bulan.
skor = 0,50 × kelengkapan + 0,20 × kewajaran + 0,30 × konsistensi
Wilayah dinyatakan andal bila skor ≥ 70,00.
Kelas kualitas pelaporan
- Baikskor 85–100 · 14 provinsiData lengkap dan konsisten. Angka cakupan dapat dibandingkan antarwilayah.
- Cukupskor 70–84 · 16 provinsiSebagian kecil KUA belum melapor. Angka masih dapat digunakan dengan catatan.
- Perlu perbaikanskor 50–69 · 5 provinsiBanyak KUA belum melapor. Angka cakupan rendah belum tentu mencerminkan kinerja layanan.
- Burukskor < 50 · 0 provinsiPelaporan sangat tidak lengkap. Angka cakupan tidak layak dibandingkan.
4Matriks Keandalan — Capaian × Kualitas Data
Capaian baik, data perlu diperiksa
0 provinsi
Capaian baik, data andal
14 provinsi
Capaian rendah, data belum lengkap
5 provinsi
Capaian rendah, data andal
16 provinsi
Skor kualitas pelaporan →
Ambang: cakupan 54,46 % (rata-rata nasional) · skor pelaporan 70,0
Capaian rendah, data andal
16- Jawa Barat 52,8%
- Kepulauan Riau 52,0%
- Kalimantan Selatan 50,4%
- DKI Jakarta 42,5%
- Kepulauan Bangka Belitung 39,4%
- Riau 39,3%
- Sumatera Utara 37,4%
- Sumatera Selatan 33,8%
- Lampung 33,6%
- D.I. Yogyakarta 32,2%
- Sulawesi Tenggara 31,5%
- Papua 29,8%
- Nusa Tenggara Timur 29,7%
- Kalimantan Timur 28,5%
- Banten 26,0%
- Bengkulu 25,0%
Capaian baik, data perlu diperiksa
0Capaian rendah, data belum lengkap
514provinsi
Angka dapat dipakai langsung untuk penilaian dan perbandingan.
16provinsi
Rendahnya cakupan mencerminkan kondisi layanan yang sebenarnya. Layak menjadi sasaran intervensi.
0provinsi
Cakupan tampak baik, tetapi sebagian KUA belum melapor. Perlu verifikasi sebelum dijadikan rujukan.
5provinsi
Cakupan rendah DAN pelaporan tidak lengkap. Tidak dapat disimpulkan apakah ini masalah layanan atau masalah pencatatan — perbaiki pelaporannya lebih dulu.
5Wilayah yang Angkanya Belum Layak Dibandingkan
5 dari 35 provinsiPerhatian khusus
5 provinsi memiliki cakupan di bawah rata-rata nasional sekaligus pelaporan yang belum lengkap: Nusa Tenggara Barat (cakupan 9,19 %, skor pelaporan 59,04), Jambi (cakupan 8,60 %, skor pelaporan 59,09), Maluku (cakupan 31,98 %, skor pelaporan 66,38), Maluku Utara (cakupan 23,12 %, skor pelaporan 66,62), Sulawesi Tengah (cakupan 25,28 %, skor pelaporan 69,88). Untuk wilayah ini, tidak dapat disimpulkan apakah persoalannya ada pada layanan atau pada pencatatan. Pembenahan pelaporan perlu didahulukan sebelum menetapkan intervensi.| Provinsi | Skor pelaporan | Kelengkapan | Kewajaran | Konsistensi | KUA nol peserta | Coverage Rate | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nusa Tenggara Barat | 59,0 % | 19,8 | 99,1 | 97,7 | 93/ 116 | 9,19 % | Perlu verifikasi |
| Jambi | 59,1 % | 19,7 | 100,0 | 97,5 | 106/ 132 | 8,60 % | Perlu verifikasi |
| Maluku | 66,4 % | 35,1 | 96,1 | 98,7 | 50/ 77 | 31,98 % | Perlu verifikasi |
| Maluku Utara | 66,6 % | 35,6 | 98,1 | 97,4 | 67/ 104 | 23,12 % | Perlu verifikasi |
| Sulawesi Tengah | 69,9 % | 41,8 | 97,5 | 98,3 | 92/ 158 | 25,28 % | Perlu verifikasi |
| Bengkulu | 70,2 % | 43,8 | 97,7 | 96,1 | 72/ 128 | 24,96 % | Andal |
| Nusa Tenggara Timur | 71,0 % | 45,6 | 98,1 | 95,1 | 56/ 103 | 29,70 % | Andal |
| Sumatera Selatan | 71,3 % | 46,8 | 94,8 | 96,5 | 123/ 231 | 33,75 % | Andal |
| Sulawesi Tenggara | 71,4 % | 44,8 | 98,5 | 97,8 | 111/ 201 | 31,48 % | Andal |
| Kalimantan Timur | 72,6 % | 47,4 | 96,8 | 98,4 | 50/ 95 | 28,52 % | Andal |
| Papua | 73,1 % | 48,3 | 96,6 | 99,0 | 15/ 29 | 29,76 % | Andal |
| D.I. Yogyakarta | 74,6 % | 52,6 | 92,3 | 99,4 | 37/ 78 | 32,21 % | Andal |
| Sumatera Utara | 74,8 % | 53,1 | 93,5 | 98,4 | 165/ 352 | 37,45 % | Andal |
| Riau | 76,4 % | 56,7 | 93,3 | 98,1 | 71/ 164 | 39,26 % | Andal |
| Kepulauan Bangka Belitung | 78,3 % | 61,7 | 91,5 | 97,2 | 18/ 47 | 39,38 % | Andal |
| Lampung | 79,1 % | 60,0 | 97,8 | 98,4 | 90/ 225 | 33,62 % | Andal |
| Banten | 79,7 % | 61,3 | 99,4 | 97,1 | 60/ 155 | 25,96 % | Andal |
| Kalimantan Barat | 82,3 % | 71,2 | 86,5 | 98,1 | 47/ 163 | 67,17 % | Andal |
| Kalimantan Tengah | 82,3 % | 67,2 | 95,8 | 98,5 | 39/ 119 | 59,00 % | Andal |
| Kalimantan Selatan | 82,6 % | 70,9 | 88,7 | 97,9 | 44/ 151 | 50,45 % | Andal |
| Sulawesi Barat | 84,0 % | 77,8 | 77,8 | 98,4 | 14/ 63 | 69,67 % | Andal |
| Sulawesi Utara | 86,2 % | 77,9 | 89,6 | 97,6 | 17/ 77 | 58,88 % | Andal |
| Papua Barat | 87,2 % | 78,3 | 91,3 | 99,2 | 10/ 46 | 78,67 % | Andal |
| Kepulauan Riau | 88,5 % | 81,8 | 89,4 | 99,0 | 12/ 66 | 51,99 % | Andal |
| Kalimantan Utara | 88,9 % | 83,9 | 87,1 | 98,6 | 5/ 31 | 81,67 % | Andal |
| Sumatera Barat | 90,7 % | 99,4 | 58,6 | 97,4 | 1/ 174 | 99,18 % | Andal |
| Jawa Tengah | 90,7 % | 88,7 | 82,0 | 99,8 | 65/ 573 | 63,72 % | Andal |
| Sulawesi Selatan | 91,2 % | 90,4 | 82,2 | 98,4 | 27/ 281 | 71,14 % | Andal |
| Jawa Timur | 92,4 % | 95,2 | 74,6 | 99,7 | 32/ 665 | 75,06 % | Andal |
| Aceh | 92,6 % | 97,9 | 70,6 | 98,5 | 6/ 279 | 87,01 % | Andal |
| Gorontalo | 93,5 % | 91,4 | 90,0 | 99,3 | 6/ 70 | 76,83 % | Andal |
| Bali | 93,6 % | 91,4 | 91,4 | 98,7 | 3/ 35 | 73,39 % | Andal |
| Jawa Barat | 94,7 % | 94,1 | 90,9 | 98,1 | 37/ 626 | 52,84 % | Andal |
| DKI Jakarta | 94,7 % | 95,5 | 88,6 | 97,6 | 2/ 44 | 42,52 % | Andal |
| Papua Barat Daya | 100,0 % | 100,0 | 100,0 | 100,0 | 0/ 1 | 100,00 % | Andal |
6Dampaknya pada Pembacaan Peringkat
Pembacaan tanpa indeks ini
“Nusa Tenggara Barat berkinerja terburuk secara nasional dengan cakupan 9,19 %.” Kesimpulan ini terlihat sah bila hanya melihat satu angka.
Pembacaan dengan indeks ini
“93 dari 116 KUA di Nusa Tenggara Barat tidak melaporkan satu pun peserta. Angka 9,19 % belum dapat ditafsirkan sebagai kinerja layanan — pembenahan pencatatan perlu didahulukan.”
7Implikasi Kebijakan
Sebelum ICBP dijadikan indikator kinerja daerah, kualitas pelaporan 5 provinsi perlu dibereskan lebih dulu.
Menjadikan cakupan sebagai target tanpa menjaga mutu pencatatan berisiko mendorong perbaikan angka, bukan perbaikan layanan.
Selisih 10.638 peristiwa nikah antara kolom Total dan penjumlahan bulanan perlu ditelusuri di sisi SIMKAH.
Urutan Langkah yang Disarankan
Sebuah indeks hanya sekuat mutu data yang menopangnya. Mengukur keandalan pelaporan bukan menunda penilaian, melainkan memastikan penilaian itu mengenai sasaran yang benar.
Provinsi dengan data andal
30dari 35
Angka cakupannya dapat dibandingkan langsung antarwilayah.
Provinsi perlu verifikasi
5dari 35
Ditampilkan apa adanya, tetapi tidak dijadikan dasar penilaian kinerja.