Indeks Cakupan Bimbingan Perkawinan (ICBP)
Profil Calon Pengantin
Struktur Usia, Pendidikan, dan Pekerjaan Calon Pengantin — Semester I Tahun 2026
Analisis tambahan di luar enam dimensi laporan cetak · Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) · Januari–Juni 2026
Siapa calon pengantin Indonesia — berapa usia mereka, sampai jenjang mana pendidikannya, dan apa pekerjaannya — dan apa konsekuensinya bagi rancangan layanan Bimbingan Perkawinan?
1Executive KPI
Catatan Demografi
1.470.983catatan orang
Pengantin laki-laki 735.565 dan pengantin perempuan 735.418. Seluruhnya berupa cacahan per kelompok, bukan data per orang.
Kelompok Usia Terbesar
25–29 thlaki-laki
39,9 % pengantin laki-laki berada di kelompok ini. Pada perempuan kelompok terbesar justru lebih muda: 21–24 tahun (34,0 %).
Jenjang Pendidikan Terbanyak
SMA/SMK56,3 % laki-laki
Jenjang yang sama juga terbanyak pada perempuan (53,7 %). Perguruan tinggi: perempuan 21,0 %, laki-laki 15,5 %.
Perkawinan Usia Anak
63.772pengantin perempuan
Menikah pada usia di bawah 20 tahun — 8,67 % dari seluruh pengantin perempuan tercatat, atau satu dari 11,5. Pada laki-laki 12.564 (1,71 %).
2Struktur Usia Calon Pengantin
Piramida usia pengantin laki-laki dan perempuan
Persentase dihitung terhadap total catatan masing-masing pihak, sehingga kedua sisi dapat dibandingkan langsung meskipun jumlah catatannya sedikit berbeda.
- 10,5 %40+ th8,2 %
- 6,4 %35–39 th4,2 %
- 15,6 %30–34 th7,9 %
- 39,9 %25–29 th30,2 %
- 23,7 %21–24 th34,0 %
- 2,3 %20 th6,7 %
- 1,4 %19 th7,3 %
- 0,2 %18 th0,6 %
- 0,1 %17 th0,4 %
- 0,0 %16 th0,2 %
- 0,0 %15 th0,1 %
Kelompok di bawah 20 tahun — perkawinan usia anak
Dua pola yang berbeda
Terbesar · laki-laki
25–29 th39,9 %
Terbesar · perempuan
21–24 th34,0 %
Hampir separuh pengantin perempuan menikah sebelum berusia 25 tahun, dibanding sekitar seperempat pengantin laki-laki — selisih 21,7 p.p. Kelompok median keduanya tetap sama, sehingga perbedaan itu terletak pada ekor muda sebaran perempuan, bukan pada pergeseran seluruh distribusi.
Konsekuensi layanan: mayoritas peserta BIMWIN adalah dewasa muda yang baru memasuki dunia kerja, dengan pasangan perempuan yang rata-rata lebih muda.
3Sorotan: Perkawinan pada Usia di Bawah 20 Tahun
Pengantin perempuan di bawah 20 tahun
63.772dari 735.418
Setara 8,67 % — satu dari 11,5 pengantin perempuan yang tercatat sepanjang Januari–Juni 2026.
Pengantin laki-laki di bawah 20 tahun
12.564dari 735.565
Setara 1,71 %. Perbandingan kedua angka menunjukkan bahwa perkawinan usia muda bertumpu pada pihak perempuan — 5,1 berbanding 1.
Angka ini tidak muncul sama sekali dalam laporan cetak, meskipun tersedia utuh pada berkas sumber yang sama.
Rincian menurut usia saat pencatatan nikah
Persentase dihitung terhadap seluruh catatan usia pada masing-masing pihak.
| Usia | Perempuan | % perempuan | Laki-laki | % laki-laki | Perbandingan |
|---|---|---|---|---|---|
| 15 tahun | 620 | 0,08 % | 59 | 0,01 % | 10,5 : 1 |
| 16 tahun | 1.580 | 0,21 % | 245 | 0,03 % | 6,4 : 1 |
| 17 tahun | 3.081 | 0,42 % | 595 | 0,08 % | 5,2 : 1 |
| 18 tahun | 4.500 | 0,61 % | 1.189 | 0,16 % | 3,8 : 1 |
| 19 tahun | 53.991 | 7,34 % | 10.476 | 1,42 % | 5,2 : 1 |
| Seluruh usia di bawah 20 tahun | 63.772 | 8,67 % | 12.564 | 1,71 % | 5,1 : 1 |
Kelompok ini bersinggungan langsung dengan agenda nasional pencegahan perkawinan anak dan dengan ketentuan batas usia minimal perkawinan dalam peraturan perundang-undangan. Pencatatan di bawah batas usia dimungkinkan melalui mekanisme dispensasi, sehingga angka di atas menggambarkan pencatatan yang sah — bukan pelanggaran administratif.
Bagi penyelenggaraan BIMWIN, kelompok usia termuda adalah peserta dengan kebutuhan pendampingan paling besar: kesiapan psikologis, kesehatan reproduksi, dan ketahanan ekonomi keluarga. Materi yang seragam untuk seluruh peserta berisiko tidak menjawab kebutuhan kelompok ini.
Cara membaca angka ini
Usia yang tercatat adalah usia pada saat peristiwa nikah dicatat di SIMKAH, bukan usia pada saat mengikuti Bimbingan Perkawinan. Seluruh nilai berupa cacahan per kelompok usia; portal tidak memiliki dan tidak menampilkan data per orang. Angka disajikan sebagai temuan data yang memerlukan perhatian kebijakan, tanpa penilaian terhadap wilayah, keluarga, maupun individu mana pun.4Jenjang Pendidikan
Pengantin laki-laki
735.528 catatan · urutan jenjang dipertahankan agar kedua sebaran dapat dibaca sejajar.
- Tidak/Belum Sekolah0,6 %4.436
- SD13,7 %100.788
- SMP13,9 %102.080
- SMA/SMK56,3 %414.148
- D1-D32,0 %14.624
- S112,8 %93.943
- S2/S30,7 %5.509
Pengantin perempuan
735.548 catatan · urutan jenjang sama dengan panel di sebelah kiri.
- Tidak/Belum Sekolah0,6 %4.344
- SD10,8 %79.684
- SMP13,8 %101.803
- SMA/SMK53,7 %395.274
- D1-D32,9 %21.584
- S117,3 %127.169
- S2/S30,8 %5.690
SMA/SMK — laki-laki
56,31 %414.148
SMA/SMK — perempuan
53,74 %395.274
Selisih S1 · perempuan − laki-laki
4,52 p.p.17,29 % vs 12,77 %
Jenjang SMA/SMK mendominasi kedua belah pihak, sehingga materi BIMWIN dapat memakai tingkat keterbacaan setara pendidikan menengah sebagai dasar. Namun pengantin perempuan konsisten lebih tinggi pada jenjang perguruan tinggi — 21,00 % berbanding 15,51 %, selisih 5,49 p.p. — sehingga rancangan materi tunggal berisiko terlalu ringan bagi sebagian peserta perempuan dan terlalu berat bagi sebagian peserta laki-laki.
5Pekerjaan dan Ketersediaan Waktu
Transformasi layananPengantin laki-laki
735.586 catatan · kategori terbanyak Karyawan.
- Karyawan32,3 %237.834
- Tidak Bekerja/IRT/Pelajar31,6 %232.609
- Wiraswasta/Pedagang25,6 %188.310
- Petani/Nelayan/Peternak5,4 %39.589
- Lainnya2,0 %14.825
- PNS/TNI/Polri1,8 %13.537
- Profesional1,2 %8.882
Pengantin perempuan
735.605 catatan · kategori terbanyak Tidak Bekerja/IRT/Pelajar.
- Tidak Bekerja/IRT/Pelajar60,6 %445.789
- Karyawan20,5 %151.043
- Wiraswasta/Pedagang14,0 %103.173
- Profesional2,5 %18.280
- Petani/Nelayan/Peternak1,2 %8.580
- PNS/TNI/Polri1,0 %7.019
- Lainnya0,2 %1.721
Pengantin laki-laki dengan jam kerja terikat
57,93 %426.144 orang
Gabungan kategori Karyawan dan Wiraswasta/Pedagang — kelompok yang jadwal hariannya paling sulit disesuaikan dengan jam layanan KUA. Inilah dasar empiris langsung bagi argumen keterbatasan waktu pada halaman penutup laporan, yang selama ini dinyatakan tanpa angka pendukung.
Pada pihak perempuan porsi kategori yang sama hanya 34,56 %, sementara 60,60 % tercatat sebagai Tidak Bekerja/IRT/Pelajar. Ketersediaan waktu kedua calon pengantin karena itu tidak simetris — penjadwalan BIMWIN berpasangan pada jam kerja secara struktural menyulitkan pihak laki-laki.
Lihat model kemitraan strategis — layanan di luar jam kerja, akhir pekan, dan kanal mitra justru menyasar kelompok ini.
Jadwal layanan pada hari dan jam kerja bertabrakan langsung dengan jam kerja mayoritas calon pengantin laki-laki. Sesi akhir pekan dan sore hari adalah intervensi berbiaya rendah dengan sasaran yang terukur.
Mitra strategis — masjid, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga filantropi — menambah titik layanan tanpa membangun infrastruktur baru, sekaligus memperpendek jarak tempuh peserta.
Karena komposisi pekerjaan relatif serupa antarwilayah, kebijakan jam layanan fleksibel layak diberlakukan secara nasional, bukan hanya di wilayah perkotaan.
5bSebaran Perkawinan Usia Anak Antarwilayah
Unduh CSV provinsiAngka nasional 8,67 % menyembunyikan perbedaan antarwilayah yang sangat lebar. Provinsi tertinggi mencatat 18,57 %, sementara yang terendah 2,93 % — selisih 6,3 kali lipat. Karena itu kebijakan pencegahan tidak dapat diseragamkan.
Porsi pengantin perempuan di bawah 20 tahun
Provinsi dengan minimal 500 pencatatan usia · terurut menurun.
| Provinsi | Porsi < 20 tahun | Jumlah | Coverage |
|---|---|---|---|
| Sulawesi Utara | 18,57 % | 534 | 58,9 % |
| Kalimantan Tengah | 14,01 % | 1.024 | 59,0 % |
| Nusa Tenggara Barat | 11,67 % | 1.495 | 9,2 % |
| Gorontalo | 11,59 % | 585 | 76,8 % |
| Bengkulu | 11,44 % | 729 | 25,0 % |
| Sulawesi Barat | 11,40 % | 405 | 69,7 % |
| Kalimantan Barat | 11,11 % | 1.319 | 67,2 % |
| Kalimantan Selatan | 11,07 % | 1.366 | 50,4 % |
| Kepulauan Bangka Belitung | 11,01 % | 442 | 39,4 % |
| Sulawesi Tengah | 10,96 % | 905 | 25,3 % |
| Sumatera Selatan | 10,88 % | 2.646 | 33,8 % |
| Sulawesi Selatan | 10,66 % | 2.461 | 71,1 % |
| Jawa Timur | 10,32 % | 12.999 | 75,1 % |
| Jambi | 10,10 % | 1.157 | 8,6 % |
| Maluku Utara | 9,22 % | 292 | 23,1 % |
| Jawa Barat | 9,11 % | 13.613 | 52,8 % |
| Kalimantan Utara | 9,05 % | 135 | 81,7 % |
| Sulawesi Tenggara | 8,79 % | 672 | 31,5 % |
| Nusa Tenggara Timur | 8,76 % | 105 | 29,7 % |
| Kalimantan Timur | 8,42 % | 884 | 28,5 % |
| Lampung | 8,19 % | 1.993 | 33,6 % |
| Riau | 8,10 % | 1.621 | 39,3 % |
| Papua Barat | 7,87 % | 80 | 78,7 % |
| Papua | 7,84 % | 130 | 29,8 % |
| Banten | 7,82 % | 2.501 | 26,0 % |
| Sumatera Utara | 7,24 % | 2.571 | 37,4 % |
| Aceh | 7,10 % | 1.131 | 87,0 % |
| Bali | 6,91 % | 110 | 73,4 % |
| Jawa Tengah | 6,58 % | 7.631 | 63,7 % |
| Maluku | 6,41 % | 152 | 32,0 % |
| Kepulauan Riau | 6,00 % | 338 | 52,0 % |
| Sumatera Barat | 4,44 % | 856 | 99,2 % |
| D.I. Yogyakarta | 3,95 % | 334 | 32,2 % |
| DKI Jakarta | 2,93 % | 556 | 42,5 % |
Kaitan dengan cakupan layanan
Korelasi antara porsi perkawinan usia anak dan Coverage Rate provinsi adalah r = -0,03 — sangat lemah. Tingginya perkawinan usia anak tidak berjalan seiring dengan rendahnya cakupan BIMWIN, sehingga keduanya perlu ditangani sebagai dua agenda yang terpisah.
Perlu dicatat: usia yang tercatat adalah usia pada saat pencatatan pernikahan, bukan usia saat mengikuti BIMWIN.
Porsi tertinggi
Sulawesi Utara
18,57 %
534 pengantin perempuan di bawah 20 tahun.
Porsi terendah
DKI Jakarta
2,93 %
556 pengantin perempuan di bawah 20 tahun.
Kehati-hatian penyajian
Angka ini menggambarkan kondisi yang tercatat, bukan penilaian atas wilayah. Perbedaan antarprovinsi dipengaruhi banyak faktor di luar jangkauan data ini — struktur usia penduduk, adat setempat, akses pendidikan, dan kelengkapan pencatatan.6Apakah Komposisi Demografi Menjelaskan Perbedaan Cakupan?
Uji hubungan ICBP-5Lima provinsi dengan cakupan tertinggi
Agregat kelompok — perkawinan usia anak 9,37 % · pendidikan tinggi 22,61 %
| Provinsi | Coverage Rate | Usia anak | Pendidikan tinggi |
|---|---|---|---|
| 1Sumatera BaratExcellent | 99,18 % | 4,44 % | 38,03 % |
| 2AcehExcellent | 87,01 % | 7,10 % | 26,79 % |
| 3Kalimantan UtaraHigh | 81,67 % | 9,05 % | 27,21 % |
| 4GorontaloHigh | 76,83 % | 11,59 % | 22,01 % |
| 5Jawa TimurHigh | 75,06 % | 10,32 % | 19,69 % |
Kolom demografi dihitung pada pengantin perempuan: porsi yang menikah di bawah 20 tahun dan porsi berpendidikan D1–D3 ke atas.
Lima provinsi dengan cakupan terendah
Agregat kelompok — perkawinan usia anak 10,89 % · pendidikan tinggi 25,79 %
| Provinsi | Coverage Rate | Usia anak | Pendidikan tinggi |
|---|---|---|---|
| 33JambiVery Low | 8,60 % | 10,10 % | 28,94 % |
| 32Nusa Tenggara BaratVery Low | 9,19 % | 11,67 % | 19,96 % |
| 31Maluku UtaraVery Low | 23,12 % | 9,22 % | 28,46 % |
| 30BengkuluVery Low | 24,96 % | 11,44 % | 32,57 % |
| 29Sulawesi TengahVery Low | 25,28 % | 10,96 % | 24,21 % |
Kolom demografi dihitung pada pengantin perempuan: porsi yang menikah di bawah 20 tahun dan porsi berpendidikan D1–D3 ke atas.
Pola yang ditemukan
Kelompok provinsi bercakupan terendah mencatat porsi perkawinan usia anak 1,52 p.p. lebih tinggi daripada kelompok bercakupan tertinggi (10,89 % berbanding 9,37 %). Namun rentang keduanya saling beririsan — 4,44–11,59 % pada kelompok tertinggi melawan 9,22–11,67 % pada kelompok terendah — sehingga komposisi demografi tidak memisahkan provinsi berkinerja baik dari provinsi yang tertinggal.
Temuan ini sejalan dengan dimensi ICBP-5: capaian cakupan hampir sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang dapat dikendalikan kebijakan — kapasitas KUA, jumlah dan sebaran fasilitator, intensitas pelaksanaan, serta kemitraan daerah — bukan oleh karakteristik calon pengantin yang dilayani. Demografi menjelaskan bagaimana layanan sebaiknya dirancang, bukan mengapa cakupan berbeda.
Coverage Rate = calon pengantin (suami) yang telah mengikuti BIMWIN dibagi peristiwa nikah. Peringkat hanya diberikan kepada provinsi dengan sekurang-kurangnya 1.000 peristiwa nikah, agar persentase pada wilayah bervolume sangat kecil tidak menyesatkan.
Wilayah yang tidak diperingkat dan wilayah tanpa data
Data belum tersediaPapua Barat · 989 peristiwa nikahPapua Barat Daya · 2 peristiwa nikahProvinsi di atas ada dalam data tetapi volumenya berada di bawah ambang peringkat, sehingga profil demografinya tidak dibandingkan pada tabel ini. Tiga provinsi hasil pemekaran Papua tidak ada sama sekali pada berkas sumber dan berstatus Data belum tersedia — bukan 0 %. Provinsi yang melapor: 35, meliputi 499 kabupaten/kota dan 5.918 KUA.7Implikasi Kebijakan
Sediakan modul khusus bagi peserta di bawah 20 tahun, dan jadikan porsi kelompok ini sebagai indikator pendamping Coverage Rate agar pencegahan perkawinan anak terpantau pada sistem yang sama.
Jadikan sesi di luar jam kerja dan akhir pekan sebagai layanan baku, bukan pengecualian — sasarannya jelas dan porsinya terukur pada data ini.
Siapkan materi berjenjang: versi dasar bagi mayoritas berlatar pendidikan menengah, dan versi lanjutan bagi peserta berlatar perguruan tinggi yang porsinya lebih besar pada pihak perempuan.
Arah Kebijakan Berbasis Profil Peserta
8Perlindungan Data Pribadi
Seluruh Data pada Halaman Ini Bersifat Agregat
Cakupan dan batas pencatatan
Jumlah catatan tiap dimensi sedikit berbeda karena sebagian isian kosong pada berkas sumber, dan seluruhnya sedikit di bawah dua kali jumlah peristiwa nikah — selisih 6.221 catatan. Selisih ini tidak ditutup dengan penambahan angka; persentase selalu dihitung terhadap total catatan dimensi yang bersangkutan.
1 peristiwa nikah = 1 pasangan = 2 orang (suami + istri)
Setiap calon pengantin berhak memperoleh bekal pengetahuan untuk membangun keluarga yang sakinah. Oleh karena itu, pengukuran cakupan layanan menjadi fondasi dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan Bimbingan Perkawinan di Indonesia.
Catatan halaman
Halaman ini tidak terdapat dalam laporan cetak. Seluruh isinya dihitung ulang dari berkas sumber yang sama dengan enam dimensi ICBP. Definisi, rumus, dan catatan perbedaan terhadap laporan cetak dihimpun pada Metodologi & catatan data.