Lompat ke konten utama

Executive Performance Report

Semester I Tahun 2026

Indeks Cakupan Bimbingan Perkawinan (ICBP)

DIMENSI 3|Regional Performance

Peta Kinerja Cakupan Bimbingan Perkawinan Antarprovinsi — Semester I Tahun 2026

Perbandingan Coverage Rate 35 provinsi pelapor · Januari–Juni 2026

Sebaran geografis

Bagaimana persebaran kinerja Coverage Rate Bimbingan Perkawinan antarprovinsi selama Semester I Tahun 2026, dan bagaimana variasi itu dipakai untuk menetapkan prioritas pemerataan layanan?

1Executive Snapshot

Provinsi Melapor

35dari 38 provinsi

3 provinsi hasil pemekaran Papua belum tercatat sama sekali pada berkas sumber SIMKAH.

Layak Diperingkat

33provinsi

Ambang 1.000 peristiwa nikah. Di bawah ambang, persentase tidak stabil secara statistik.

Kelas Very Low

17provinsi

Cakupan < 40 % — lebih dari separuh provinsi yang layak diperingkat (33).

Rentang Cakupan

90,58p.p.

Dari Sumatera Barat (99,18 %) hingga Jambi (8,60 %).

2Peta Kinerja Cakupan Antarprovinsi

Menyiapkan peta…

Sorotan sebaran

Dihitung dari 33 provinsi yang layak diperingkat.

Tertinggi — Sumatera Barat99,18 %
Terendah — Jambi8,60 %
Rentang antarprovinsi90,58 p.p.
Mencapai target 90 %1 provinsi
Cakupan 70 % ke atas7 provinsi
Di atas rata-rata nasional (54,46 %)12 provinsi

Interpretasi nasional

Capaian Coverage Rate belum merata di seluruh Indonesia. Selisih 90,58 p.p. antara provinsi tertinggi dan terendah jauh melampaui jarak rata-rata nasional (54,46 %) terhadap target 90 %. Variasi sebesar itu mencerminkan perbedaan kapasitas penyelenggaraan, karakteristik wilayah, dan tingkat akses terhadap layanan — bukan perbedaan kebutuhan masyarakatnya.

Wilayah tanpa data pada peta

Papua Selatan · Papua Tengah · Papua Pegunungan digambar berpola arsir dan diberi label “Data belum tersedia”. Ketiganya tidak pernah ditampilkan sebagai 0 %, karena ketiadaan pelaporan bukan berarti ketiadaan layanan.

3Distribusi Kelas Kinerja Regional

Excellent85–100 %

2provinsi

Cakupan sangat tinggi, kinerja pelayanan sangat baik.

High70–84 %

5provinsi

Cakupan tinggi, kinerja pelayanan baik.

Moderate55–69 %

5provinsi

Cakupan sedang, masih perlu penguatan.

Low40–54 %

4provinsi

Cakupan rendah, memerlukan intervensi.

Very Low< 40 %

17provinsi

Cakupan sangat rendah, memerlukan prioritas tinggi.

Komposisi 33 provinsi layak peringkat

Kelas kinerja diturunkan dari Coverage Rate, tidak ditetapkan manual.

  • Excellent2 · 6,1 %
  • High5 · 15,2 %
  • Moderate5 · 15,2 %
  • Low4 · 12,1 %
  • Very Low17 · 51,5 %

4Peringkat Cakupan Provinsi

Unduh CSV

Provincial Benchmark Ranking

Coverage Rate = calon pengantin (suami) yang telah mengikuti BIMWIN dibagi peristiwa nikah tercatat. Rata-rata nasional 54,46 %.

RankProvinsiCoverage RatePeristiwa nikahIkut BIMWIN (suami)Belum terlayaniKUAKelas kinerjaKuadran
1Sumatera BaratTarget tercapai
99,18 %
19.49619.337159174ExcellentLeading
2Aceh
87,01 %
16.09914.0072.092279ExcellentLeading
3Kalimantan Utara
81,67 %
1.5001.22527535HighEfficient
4Gorontalo
76,83 %
5.0753.8991.17670HighEfficient
5Jawa Timur
75,06 %
124.80993.68231.127665HighLeading
6Bali
73,39 %
1.5711.15341835HighEfficient
7Sulawesi Selatan
71,14 %
23.31616.5866.730283HighLeading
8Sulawesi Barat
69,67 %
3.5972.5061.09163ModerateEfficient
9Kalimantan Barat
67,17 %
12.0248.0773.947164ModerateLeading
10Jawa Tengah
63,72 %
115.19073.39641.794573ModerateLeading
11Kalimantan Tengah
59,00 %
7.3654.3453.020122ModerateEfficient
12Sulawesi Utara
58,88 %
2.9401.7311.20978ModerateEfficient
13Jawa Barat
52,84 %
151.11079.84371.267626LowLeading
14Kepulauan Riau
51,99 %
5.6172.9202.69766LowEfficient
15Kalimantan Selatan
50,45 %
12.4416.2766.165151LowLeading
16DKI Jakarta
42,52 %
18.6337.92210.71144LowLeading
17Kepulauan Bangka Belitung
39,38 %
4.1141.6202.49447Very LowEfficient
18Riau
39,26 %
20.1577.91412.243164Very LowPriority
19Sumatera Utara
37,45 %
35.80713.40822.399372Very LowPriority
20Sumatera Selatan
33,75 %
25.0958.47016.625231Very LowPriority
21Lampung
33,62 %
24.5478.25216.295225Very LowPriority
22D.I. Yogyakarta
32,21 %
8.3992.7055.69478Very LowDeveloping
23Maluku
31,98 %
2.3837621.62180Very LowDeveloping
24Sulawesi Tenggara
31,48 %
7.7772.4485.329201Very LowDeveloping
25Papua
29,76 %
1.6704971.17329Very LowDeveloping
26Nusa Tenggara Timur
29,70 %
1.256373883110Very LowDeveloping
27Kalimantan Timur
28,52 %
10.4532.9817.47296Very LowPriority
28Banten
25,96 %
32.4508.42424.026155Very LowPriority
29Sulawesi Tengah
25,28 %
8.2732.0916.182165Very LowDeveloping
30Bengkulu
24,96 %
6.6111.6504.961128Very LowDeveloping
31Maluku Utara
23,12 %
3.1447272.417107Very LowDeveloping
32Nusa Tenggara Barat
9,19 %
13.0661.20111.865116Very LowPriority
33Jambi
8,60 %
11.6261.00010.626132Very LowPriority

Tercatat, tetapi tidak diperingkat

Provinsi dengan kurang dari 1.000 peristiwa nikah tidak diberi peringkat: persentasenya terlalu mudah berayun oleh segelintir peristiwa sehingga tidak setara dibandingkan dengan provinsi bervolume besar. Angkanya tetap ditampilkan apa adanya.

  • Papua Barat78,67 % · 989 nikah · 53 KUATanpa peringkat
  • Papua Barat Daya100,00 % · 2 nikah · 1 KUATanpa peringkat

Belum tercatat pada berkas sumber

3 provinsi hasil pemekaran Papua tidak muncul satu baris pun pada ekspor SIMKAH Semester I Tahun 2026. Statusnya ditampilkan terbuka agar tidak terbaca sebagai cakupan nol.

  • Papua SelatanKode wilayah 93Data belum tersedia
  • Papua TengahKode wilayah 94Data belum tersedia
  • Papua PegununganKode wilayah 95Data belum tersedia

Masih perlu dikonfirmasi kepada penyusun laporan: belum melapor ke SIMKAH, atau masih tercatat di bawah provinsi induk sebelum pemekaran.

5Matriks Kinerja Provinsi dan Prioritas Kebijakan

Segmentasi provinsi berdasarkan jumlah peristiwa nikah dan Coverage Rate memberi dasar yang lebih tepat untuk menyusun strategi nasional: wilayah bervolume besar dengan cakupan rendah menyerap prioritas terbesar, sementara wilayah bercakupan tinggi menjadi sumber praktik baik. Keanggotaan kuadran dihitung dari median nasional, sehingga satu provinsi mustahil berada pada dua kuadran sekaligus.

Coverage Rate →

Efficient Provinces

8 provinsi

Leading Provinces

9 provinsi

Developing Provinces

8 provinsi

Priority Provinces

8 provinsi

Jumlah peristiwa nikah →

Ambang kuadran = median nasional: cakupan 39,38 % · volume 10.453 peristiwa nikah

Cara membaca matriks

Sumbu mendatar = jumlah peristiwa nikah; sumbu tegak = Coverage Rate. Ambang keduanya adalah median 33 provinsi layak peringkat, yaitu 39,38 % dan 10.453 peristiwa nikah. Kuadran Priority berisi 8 provinsi — bervolume besar dengan cakupan di bawah median — sehingga satu perbaikan di sana menggerakkan angka nasional paling jauh. Dua provinsi yang tidak layak diperingkat tidak dimasukkan ke kuadran mana pun.

6Perbandingan KUA Kabupaten dan KUA Kota

Urban–Rural Performance Profile

Klasifikasi mengikuti aturan BPS: dua digit terakhir kode kabupaten/kota 71 ke atas berarti Kota. Kolom selisih dibaca satu arah — nilai Kota dikurangi nilai Kabupaten.

Indikator kinerjaKUA KabupatenKUA KotaSelisih (Kota − Kabupaten)
Jumlah wilayah40198−303
Jumlah KUA5.220698−4.522
Peristiwa nikah604.597134.005−470.592−77,8 %
Calon pengantin (suami) ikut BIMWIN344.00658.202−285.804−83,1 %
Coverage Rate56,90 %43,43 %−13,47 p.p.
Rata-rata peristiwa nikah per KUA115,82191,98+76,16+65,8 %
Rata-rata BIMWIN per KUA65,9083,38+17,48+26,5 %

Executive benchmark — perbandingan cermin

KUA Kabupaten — batang kiriKUA Kota — batang kanan
Jumlah wilayah40198
Jumlah KUA5.220698
Peristiwa nikah604.597134.005
Calon pengantin (suami) ikut BIMWIN344.00658.202
Coverage Rate56,90 %43,43 %
Rata-rata peristiwa nikah per KUA115,82191,98
Rata-rata BIMWIN per KUA65,9083,38

Panjang batang dinormalkan terhadap nilai terbesar pada setiap baris; angka pastinya ada pada tabel di atas dan pada kedua sisi batang.

Beban perkotaan adalah titik intervensi

KUA Kota menangani 1,66× lebih banyak peristiwa nikah per satuan kantor (191,98 berbanding 115,82), namun mencatat Coverage Rate 13,47 p.p. lebih rendah (43,43 % berbanding 56,90 %). Yang menahan capaian adalah beban layanan perkotaan, bukan kebutuhan yang lebih kecil.

Selisih cakupan

13,47 p.p.

Rasio beban kota

1,66×

7Wawasan Eksekutif

Variasi capaian antarprovinsi mencapai 90,58 p.p. — hanya 7 provinsi menembus 70 %, sementara 17 provinsi berada di bawah 40 % — jarak yang terlalu lebar untuk dijelaskan oleh perbedaan kebutuhan masyarakat.

Volume pernikahan hampir tidak menjelaskan capaian: korelasi antarprovinsi hanya r = 0,19, setara 3,7 % variasi. Cakupan ditentukan faktor yang dapat dikendalikan kebijakan — kapasitas KUA, fasilitator, intensitas layanan, dan kemitraan.

Provinsi berkinerja terbaik bukan yang bervolume terkecil. Sumatera Barat mencatat 99,18 % atas 19.496 peristiwa nikah yang dilayani 174 KUA — bukti cakupan tinggi dapat dipertahankan pada skala pelayanan yang nyata.

Peta regional menjadi dasar penetapan prioritas pembinaan nasional: 8 provinsi kuadran Priority dan 8 provinsi kuadran Developing memerlukan bentuk dukungan yang berbeda, bukan perlakuan seragam.

8Prioritas Kebijakan Nasional

Langkah 1

Replikasi praktik baik

Provinsi bercakupan tinggi dijadikan rujukan metode penyelenggaraan bagi wilayah dengan karakteristik serupa.

Langkah 2

Penguatan kapasitas KUA dan fasilitator

Penambahan serta peningkatan kompetensi fasilitator diarahkan ke wilayah dengan beban layanan terberat.

Langkah 3

Fokus pada provinsi prioritas

Alokasi program didahulukan pada kuadran Priority — cakupan rendah dengan volume pernikahan tinggi.

Langkah 4

Monitoring berkala melalui SIMKAH

Perkembangan tiap provinsi dipantau pada kadensi tetap agar koreksi dilakukan sebelum semester berakhir.

Arah Pemerataan Regional

Kinerja regional yang timpang menuntut kebijakan yang berbeda menurut posisi tiap provinsi: replikasi praktik baik dari provinsi bercakupan tinggi, penguatan kapasitas KUA dan fasilitator pada provinsi bervolume besar bercakupan rendah, serta perluasan kemitraan daerah di wilayah dengan hambatan akses. Keberhasilan pemerataan diukur bukan dari naiknya rata-rata nasional semata, melainkan dari menyempitnya rentang 90,58 p.p. antarprovinsi.

Rekomendasi utama

  • Replikasikan praktik baik dari provinsi berkinerja tinggi ke provinsi dengan karakteristik wilayah serupa.
  • Prioritaskan dukungan pada provinsi dengan Coverage Rate rendah dan jumlah peristiwa nikah tinggi.
  • Perkuat kapasitas fasilitator dan penyelenggara BIMWIN, terutama pada KUA perkotaan yang bebannya paling padat.
  • Integrasikan analisis regional ke dalam perencanaan dan penganggaran program nasional.
  • Lakukan evaluasi berkala atas perkembangan kinerja setiap provinsi melalui dasbor SIMKAH.
Telusuri faktor pendorong cakupan (ICBP-5)
Keberhasilan nasional tidak hanya ditentukan oleh tingginya capaian rata-rata, tetapi oleh kemampuan memastikan setiap provinsi memiliki kesempatan yang setara dalam memberikan layanan Bimbingan Perkawinan kepada seluruh calon pengantin.
Laporan ICBP Semester I 2026 — ICBP-3 Regional Performance

Catatan data

Peringkat provinsi pada halaman ini dihitung ulang langsung dari data SIMKAH tingkat KUA dan berbeda dari daftar Top 10 pada laporan cetak. Ambang peringkat 1.000 peristiwa nikah, kelas kinerja, dan keanggotaan kuadran seluruhnya diturunkan dari data — tidak satu pun ditetapkan manual. Rinciannya terbuka di Metodologi & catatan data.

Sumber Data

Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH)

Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah

Semester I Tahun 2026

ICBP Executive Performance Report

ICBP-3 · Regional Performance

Metodologi & catatan data